Translate

Minggu, 23 Juli 2017

FF YAOI || HAEHYUK || ENEMY ? || OS

ENEMY ?

(HaeHyuk/HaeEun) Lee Donghae x Lee Hyukjae(Eunhyuk)

Boys Love(BoyxBoy),OOC,Cerita Pasaran
I own this story, please don't copy n paste without permission
Cerita ini milik saya, mohon jangan copy paste tanpa izin

Thank You


'Hope You Like It~ Happy Reading'

Pukul 13.00

BRAAK

Suara gebrakan meja tersebut sudah menjadi hal yang terlalu biasa -untuk para Mahasiswa/i Pearl Blue University- saat mereka hendak makan siang di kantin. Sehingga mereka masih melanjutkan aktivitas mereka seperti tidak sedang terjadi apa-apa. Mahasiswa/i Pearl Blue University sudah sangat hafal apa yang akan dilakukan 2 namja yang membuat suara gebrakan meja tadi.

Biar kuperkenalkan dua tokoh utama kita. Mereka adalah Lee Donghae dan Lee Hyukjae. Lee Donghae terkenal dengan wajahnya yang tampan seperti tokoh pangeran dalam komik-komik, dambaan setiap gadis. Sedikit berlebihan sih, tapi hal ini merupakan kata-kata dari seorang bocah evil –Cho Kyuhyun- yang sangat jarang memuji orang jadi yah kita harus percaya karena hal ini jarang terjadi –Cho memuji orang lain selain dirinya sendiri-.

Selain tampan Lee Donghae juga memiliki tubuh yang atletis dengan abs kotak-kotaknya, bisep gedenya, bahu tegapnya serta dadanya yang bidang. Dia juga memiliki suara berat seorang lelaki yang membuat setiap wanita akan melted jika Donghae memanggil nama mereka. Lee Donghae juga anggota inti dari tim basket, tim sepak bola, tim renang di kampusnya. Lee Donghae mempunyai suara yang merdu saat bernyanyi, dapat memainkan alat musik –gitar dan piano-, dan dapat melakukan dancer meskipun tidak sehebat Lee Hyukjae. Kurang perfect apa coba dirinya?

Lee Hyukjae sendiri terkenal karena kemampuan dancenya dan sebagai ketua tim dance di kampusnya. Dia mencintai dance saat berusia 6 tahun saat pergi menemani noonanya ke sekolahnya dan melihat pertunjukan dance. Sejak saat itu Lee Hyukjae mulai belajar sendiri berdancing. Lee Hyukjae seorang namja dengan selera humor tinggi, dia dapat membuat orang yang baru dikenalnya langsung nyaman bersamanya –pengecualian Donghae-.

Lee Hyukjae memiliki tubuh yang kurus atau bisa di bilang memiliki pinggang yang ramping. Bahkan ukuran celananya sama dengan yeoja dengan bentuk tubuh ideal di Pearl Blue University ini. Dia memiliki kulit seputih susu dan sangat halus yang menurut beberapa temannya seperti bayi. Kaki yang jenjang, jari tangan yang lentik sehingga membuat beberapa wanita minder karenanya, gummy smile yang indah sehingga terbentuk love pada bentuk mulutnya saat dia tertawa, dan yang paling utama seorang Lee Hyukjae memiliki bibir yang sangat kissable mengundang setiap orang ingin merasakannya.

Back to story, mereka berdua saat ini seperti biasanya akan menantang satu sama lain untuk mendapatkan yeoja pujaan mereka yang kebetulan adalah orang yang sama dan yeoja yang beruntung itu bernama Uee (read:yuwi). Mereka akan ke kantin membuat kesepakatan tentang dimana dan apa yang akan di lombakan serta hadiah dari perlombaan itu. Uee sendiri awalnya menyukai Hyukjae tapi saat melihat kegigihan plus ketampanan Donghae hatinya sepertinya telah berpindah. Uee tidak pernah ikut ataupun hanya sekedar melihat Lee Donghae dan Lee Hyukjae saat bertaruh. Dia hanya akan menunggu dirumah dan saat malam pukul 20.00 akan ada dari mereka berdua yang datang kerumahnya untuk mengajaknya jalan. Dia tahu bahwa itulah pemenang taruhan hari itu. Dan perlu diketahui bahwa yang sering datang kerumahnya itu adalah Donghae.

"Kali ini di lapangan dan lombanya adalah lari 5x putar lapangan. Otte?" ujar Donghae -sambil menopang dagu dengan sikunya dimeja kantin menghadap Hyukjae dan menatapnya intens- yang kali ini gilirannya memberikan tantangan karena minggu kemarin Hyukjae yang memberikan tantangan.

"Oke, deal dan hadiahnya seperti biasa" ujar Hyukjae sambil mengulurkan tangannya bermaksud setuju dengan apa yang dikatakan Donghae –dengan wajah yang merah entah karena apa. Panas ataukah karena marah ataukah karena hal lain-

"Oke deal"

.

.

.

Hyukjae saat ini sedang berada diatas bukit belakang kampus mereka. Berdiri sambil memejamkan matanya, mendongakkan kepalanya keatas, merentangkan tangannya guna merasakan angin membelai seluruh tubuhnya. Ini sudah hari kelima sejak tantangan itu berlangsung. Hyukjae menundukkan kepalanya. "Haahh~ sejak hari itu aku tidak pernah melihat Donghae dan Uee lagi. Apa mereka sudah menjadi sepasang kekasih?" monolog Hyukjae sambil memegang dada kirinya. "Aku,,, merindukannya" ucapnya mencicit.

"Hyukjae"

Deg

"Suara ini, kenapa dia bisa berada disini?" batin Hyukjae

Hyukjae membalikkan badan guna melihat Donghae -selaku orang yang memanggilnya tadi–berjalan mendekati Hyukjae.

BUG

"Katakan APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADAKU?" teriak Donghae sambil memukul pipi Hyukjae hingga terdorong ke belakang.

BUG

"KENAPA KAU MELAKUKANNYA PADAKU, LEE HYUKJAE?" kali ini Donghae sambil memukul pelipis Hyukjae mengakibatkan Hyukjae tersungkur ke tanah yang berumput dibelakangnya. Donghae menarik kerah kemeja Hyukjae untuk berdiri lalu kali ini memukul wajah Hyukjae tepatnya dibagian bibir sebelah kanannya yang mengakibatkan gigi bagian atasnya patah kemudian punggung Hyukjae menabrak pohon di sampingnya.

BRUK

Hyukjae yang menerima semua serangan itu hanya berdiam diri, bukan karena pukulan Donghae tidak sakit, hey lihat ini bahkan sampai berdarah dan Hyukjae tadi sampai tersungkur. Kalian pasti gila jika menganggap pukulan Donghae tidak berpengaruh bagi Hyukjae. Alasan Hyukjae menerima serangan Donghae dan tidak membalasnya karena dia merasa pantas mendapatkannya yang telah lancang dan bodoh pastinya mengatakan perasaan CINTAnya pada Donghae. Ya, Hyukjae mencintai Donghae sedangkan mereka berdua sama-sama laki-laki.

~Flashback On~

"Hosh…hosh…hosh…"

Suara hosa(?) terdengar dari dua orang lelaki yang baru saja menyelesaikan lomba lari mereka yaitu 5x putaran pada lapangan sepak bola. Mereka saat ini sedang duduk pada kursi penonton.

"Aku yang menang Hyuk. Kau bilang bahwa kau yang akan mendapatkan Uee akhirnya. Tapi kenapa kau sering kalah. Hahahaha kau payah Hyuk" Hyukjae hanya terdiam menatap lurus ke arah lapangan. "Berarti nanti malam aku yang akan mengajak UEE kencan lagi. Haaahh~ untuk kali ini aku harus menyiapkannya seromantis mungkin. Kau harus bersiap Hyuk, nanti malam aku akan mengatakan cintaku dan dia akan menerimanya" ucap Donghae dengan senyum sumringah di wajahnya membayangkan dia yang akan memenangkan pertaruhan ini.

Hyukjae yang mendengar itu mengepalkan tangannya. Dada bagian kiri dimana jantungnya berada terasa ngilu saat mendengar apa yang Donghae katakan. Hyukjae merasa dia sudah benar-benar tidak bisa menahannya untuk berpura-pura bertaruh. "Donghae" ucap Hyukjae tanpa mengalihkan pandangannya dari tengah lapangan sepak bola. Tangannya mengepal semakin erat. "Hmm" tanggap Donghae hendak meminum air isotonic yang mereka bawa tadi.

"Aku mencintaimu" ucap Hyukjae penuh penekanan, dia siap menerima makian maupun ejekkan dari Donghae saat ini makanya dia tidak menatap Donghae saat berbicara tadi karena itu sangat sakit saat menerima hinaan tentang perasaan tulusmu dari seseorang yang kau cintai.

Donghae terbelalak. Dia kaget, itu pasti, namun dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Secara tidak sengaja dia meremas botol -yang ujungnya hampir menyentuh mulutnya tadi untuk diminum- hingga airnya tumpah pada celananya. Kemudian meletakkan botol yang sudah penyok(?) tadi pada bangku disampingnya secara kasar lalu berdiri "Aku deluan….Hyuk" ucapnya datar lalu berlalu meninggalkan Hyukjae yang sedang meremas dada kirinya serta air mata yang telah berhasil keluar dari bola matanya.

"Ini bahkan lebih sakit daripada jika kau mencaciku Hae"

~Flashback Off~

Donghae mendekati Hyukjae yang tengah bersandar pada pohon -sedang meludahkan patahan giginya akibat pukulan Donghae tadi-. "Kau! YA! LEE HYUKJAE" Donghae mengepalkan tangannya di samping kepalanya hendak memukul Hyukjae lagi. Hyukjae yang melihat itu segera memjamkan mata untuk menerima pukulan lagi dari Donghae –sambil menjilat bibirnya guna membersihkan darah-.

Entah karena kerasukan setan apa, Donghae yang melihat itu lalu menangkap(?) lidah Hyukjae dengan mulutnya kemudian mengemut dan menghisap lidah Hyukjae dalam mulutnya. Donghae juga melumat kedua belah bibirnya secara rakus. Hyukjae tersentak terbelalak saat Donghae mengemut lidahnya apalagi Donghae menciumnya dengan memejamkan mata seakan menikmati ciuman ini. Hyukjae tidak bisa berbohong kalau dia memang menginginkan hal ini.

Namun Hyukjae sadar, Donghae melakukan ini hanya untuk mempermainkannya, tidak mungkin Donghae menyukainya apalagi sikapnya waktu di lapangan itu.

Menyadari hal itu, Hyukjae meyenggol kaki Donghae sehingga Donghae kehilangan keseimbangan lalu dengan sekuat tenaga memukul perut Donghae yang mengakibatkan Donghae termundur ke belakang dan keluar darah dari mulutnya. Donghae –menyeka darah yang keluar dari mulutnya- dia sungguh tidak menyangka bahwa Hyukjae akan membalas pukulannnya apalagi saat dia sedang mencium Hyukjae. Donghae pikir bukannya Hyukjae akan menyukainya karena Hyukjae mencintainya bukan?

Hyukjae dengan kasar menyeka dan membersihkan saliva mereka berdua yang mengalir di bibirnya akibat ciuman paksa dari Donghae yang jujur Hyukjae sempat menikmatinnya. Hati Hyukjae sakit, matanya memerah, tangannya mengepal erat menahan amarahnya.

"APA MAKSUD CIUMAN INI LEE DONGHAE?" teriak Hyukjae sambil menatap Donghae tajam

"Aku tahu kau sangat membenciku karena perasaan ini. Aku tahu kau sangat mencintai Uee. Aku juga tahu kau itu…..normal" ucap Hyukjae menunduk sampai berlutut pada rumput dibawahnya. Dia terlalu lelah karena perasaannya terhadap Donghae.

"Tapi satu hal ku mohon darimu Hae hanya satu. Hiks…. Tolong Hae, tolong…. Tolong jangan permainkan perasaan ini Hae. Ini sakit, sangat sakit Hae. Hiksss.. perasaan ini tulus Hae, ku mohon… jangan permainkan perasaanku Hae hiks…" Hyukjae sudah tidak bisa menahan air matanya, dia sudah tidak perduli dengan image kuat dan berandal pada dirinya. Dia meremas dada sebelah kirinya tempat dimana jantungnya berada dan berdetak sakit.

"Aku lebih rela kau pukul hingga aku tidak bisa bergerak,,, hiks… aku lebih rela kau caci maki, kau hina di depan yang lain. AKU LEBIH RELA KAU MELAKUKAN ITU LEE DONGHAE! Daripada…. kau harus menciumku, seolah hikss… seolah kau akan membalas perasaanku. Seolah kau mempunyai perasaan yang sama denganku. Ku mohon Hae, hikss… Ku mohon jangan menciumku seolah kau akan membalas perasaanku"

Hyukjae menyeka air matanya kemudian berdiri sambil berpegangan pada pohon di belakangnya lalu menatap wajah Donghae -yang selama Hyukjae bicara tadi hanya diam sambil memandang sendu Hyukjae tanpa sepengetahuan Hyukjae-. Hyukjae sempat terpaku dengan tatapan Donghae padanya yang menurutnya tidak bisa ia mengerti kenapa Donghae menatapnya seperti itu.

Hyukjae menghela nafas "Setelah ini tenang saja aku tidak akan mendekati Uee lagi karena dari awal aku memang tidak menyukainya dan kau tidak perlu merasa jijik lagi karena mulai detik ini aku tidak akan mengganggumu lagi Hae" Setelah mengatakan itu Hyukjae berjalan melewati Donghae bermaksud meninggalkan Donghae.

DUG

Donghae meringis meremas dada bagian kirinya, dibagian itu terasa sangat sakit. Namun, sedetik kemudian dia tersenyum -menyeringai-. Donghae membuang darah dari mulutnya lagi "Heh,,, pabo" Donghae mengatakan hal itu dengan nada meremehkan sambil menyandarkan tubuhnya pada pohon bekas Hyukjae bersandar tadi.

Hyukjae yang memang berjalan belum terlalu jauh menghentikan langkahnya tanpa bebalik badan. Air matanya mengalir lagi, dadanya mulai berdetak nyeri lagi seolah ada radang pada jantungnya. Ini terlalu menyakitkan baginya, kenapa, kenapa tidak ada rasa simpati sedikitpun dari laki-laki disana untuk dirinya. Apakah Hyukjae terlalu kotor untuk Donghae sehingga tidak pantas mendapatkan sedikitpun rasa simpati dari lelaki itu.

"Kau itu terlalu sok tahu Hyuk. Dari awal itu yang terjadi, kau sok tahu dan berkata kau yang akan memenangkan semua taruhan kita, namun hasilnya…. Kau juga sok tahu saat berkata kau yang akan mendapatkan Uee dan kau tau pada akhirnya itu salahkan. Sekarang ternyata sifat sok tahumu juga belum hilang. Kali ini kau sok tahu bahwa aku mencintai Uee?" Donghae -tersenyum tulus- mengatakan itu sambil berjalan kearah Hyukjae. Hyukjae sendiri masih heran -di tempatnya tanpa berbalik badan meski dia mendengar suara Donghae mendekatinya- dengan pernyataan Donghae yang terakhir.

"Jadi kau pikir untuk apa aku menciummu tadi jika aku begitu menginginkan Uee? Mempermainkanmu? Hah~ kau sungguh sok tahu" Donghae mengucapkan hal ini dengan lembut lalu memeluk pinggang ramping Hyukjae dari belakang sambil membenamkan wajahnya pada ceruk leher Hyukjae –menghirup aroma khas Lee Hyukjae-.

Hyukjae membeku di tempatnya. Dia tidak percaya semua ini. Meski begitu jantungnya berdetak seperti orang yang habis lari marathon. Hyukjae mengerti, dia sangat mengerti dengan apa yang Donghae maksudkan tadi. Donghae ternyata mencintainya juga meski ini agak ganjal tapi dia berharap ini bukan lelucon dari seorang berandal seperti Lee Donghae.

Hyukjae lemas entah kenapa lututnya lemas dia benar-benar lega. Hyukjae bahkan akan jatuh jika Donghae tidak menahan pinggangnya. Hyukjae menangis lagi namun kali ini karena bahagia pastinya. Donghae yang merasakan Hyukjae menangis lagi kemudian mangangkat wajahnya dari mencium aroma Lee Hyukjae pada ceruk leher Hyukjae. "Hey Hyuk, kenapa menangis lagi hem? Kau, bukan ini yang kau harapkan?" Donghae -berujar dan terdengar nada sakit didalamnya- hendak melepaskan pelukannya pada pinggang Hyukjae. Namun Hyukjae menggenggam erat tangan Donghae yang berada di pinggangnya.

"Aniya Hae-ah, aku sungguh sangat bahagia" Hukjae mengatakan hal itu sambil melihat Donghae dibelakangnya dan merapatkan tubuhnya pada dada bidang Donghae. Donghae yang merasakan hal itu lebih mendekap Hyukjae dalam pelukkannya. "Tapi kenapa kau menangis Hyukkie? Aku tidak mengerti" tanya Donghae bodoh. "Dasar tidak peka, aku menangis terharu Hae karena bahagia" kali ini Hyukjae berucap sambil melihat ke langit. "Hmmm" sahut Donghae sambil sibuk menciumi rambut soft brown Hyukjae.

Cukup lama mereka terdiam dengan Hyukjae yang sedang berpikir -kenapa Donghae bisa membalas perasaannya- yang tidak ingin dia tanyakan sekarang takut merusak moment indah yang telah tercipta. Dan Donghae yang sibuk mencium dan menghirup aroma Lee Hyukjae pada rambut, tengkuk, dan leher Hyukjae-. Namun, Donghae membuka suara lebih dulu.

"Hey sayang, apa ini sakit?" tanya Donghae dengan nada sedih sambil menyentuh lembut bibir Hyukjae yang dia pukul. Donghae sungguh merasa bersalah atas itu. Hyukjae merona mendengar panggilan Donghae padanya dan juga meringis merasakan sentuhan Donghae tersebut.

"Tentu saja Hae, kau tau kekuatanmu kan? Lagipula kenapa kau memukulku? Maksudku, aku pikir kau jijik padaku sehmmph" pertanyaan Hyukjae terputus karena Donghae melumat lembut bibirnya dan itu berhasil mengembalikan rona merah pada kedua pipinya.

"Jangan berkata seperti itu Hyuk, aku mohon. Itu menyakitiku juga. Aku bahkan tidak pernah berfikir jijik tentangmu Hyuk" terdapat nada sedih dalam perkataan Donghae dia benar-benar tidak merasa jijik sekalipun pada Hyukjae kenapa Hyukjae bisa berpendapat seperti itu -Sejujurnya sejak pertama kali dia bertemu dengan Hyukjae dia merasakan perasaan ketertarikan itu. Tapi dia selalu mengingkarinya dan bahkan mengganggu Hyukjae dan syukur baginya Hyukjae mau meladeni tingkah kekanakkannya yang bisa membuatnya terus bersama Hyukjae meski dengan pertengkaran, yah walaupun dia terus mengingkari jika dia senang berada dekat dengan Hyukjae- Donghae berkata sambil melihat lurus kemata Hyukjae yang ia hadapkan kearahnya.

Hyukjae menatap mata itu dan terlihat jika apa yang dikatakan Donghae benar adanya. Namun, dia sangat penasaran apa yang membuat Donghae mempunyai perasaan yang sama padanya, bukankah Donghae normal? Bahkan mantan pacar Donghae semua adalah wanita.

"Tapi, sikapmu yang waktu di lapangan itu Hae? Dan aku pikir kau…. Normal"

"Aku memang marah, karena ya aku berharap aku normal. Kau tahu, ayahku gay dan adikku pun sama. Mereka pergi meninggalkan Ibuku sendiri dengan pasangan mereka. Itu kenapa aku membenci identitas mereka, dan aku coba mengingkari hal ini. Dan yah maafkan aku, memukulmu sangat kuat tadi karena manyalurkan kemarahan pada diriku sendiri sebenarnya. Tapi saat kau mengatakan akan pergi menjauh dariku, aku benar-benar tak bisa berpikir lain lagi selain menahanmu" Donghae menjelaskan dan membuat Hyukjae terkejut. Hyukjae tidak menyangka bahwa ada keluarga Donghae yang sama dengannya dan Hyuk merasa bersalah membuat Donghae menyukainya. Dan hal itu ditangkap oleh Donghae yang melihat ekspresi bersalah Hyukjae yang kemudian menciumnya sekilas dan mengelus pipinya.

"Jangan berpikiran yang aneh-aneh hm. Bukan karena dirimu aku menjadi seperti ini tapi berkat dirimu aku berani untuk tidak menyembunyikan identitas diriku sebenarnya. Kau benar-benar bisa melenyapkan rasa takutku Hyuk" diakhiri dengan senyum tulus dari Donghae yang membuat Hyukjae mau tak mau mengeluarkan air mata lagi –karena bahagia- dan mengundang Donghae untuk tertawa karena baru tau jika Hyukjae sang berandal yang ia kenal ternyata seorang 'cry-baby' yang dihadiahi tepukan dengan kedok(?) pukulan pada dada Donghae dan berakhir dengan mereka tertawa bersama.

"Sshh"

"Aku akan mengobatimu. Ayo pulang" Donghae hendak membalikan tubuhnya.

"Tapi masih ada dua jam lagi sebelum jam belajar berakhir Hae" Hyukjae menahan Donghae.

"Aku tidak bisa membiarkanmu mengikuti pelajaran dengan luka itu sayang. Kau tidak tau seberapa ingin aku melukai diriku sendiri karena sudah melukaimu?" Donghae sungguh merasa bersalah dan marah pada dirinya sendiri. "Maafkan aku Hymm" permintaan maafnya terputus karena Hyukjae telah melumat bibirnya.

"Jangan meminta maaf lagi!" ujar Hyukjae sebal setelah melepas lumatannya pada bibir Donghae yang membuat Donghae mematung didepannya. "Baiklah-baiklah ayo kita pulang. Aku juga tidak ingin kau melukai dirimu sendiri" sambungnya kemudian sambil menggenggam tangan Donghae.

"Sayang, jika setiap aku meminta maaf, aku mendapat ciuman seperti tadi. Rasanya aku akan meminta maaf terus menerus hehehe" ucap Donghae dengan cengiran bersemangatnya(?) yang dihadiahkan Hyukjae dengan pukulan –sebenarnya- pada perut Donghae dan membuat Donghae meringis karena bekas pukulan Hyukjae sebelumnya.

"Jangan bicara yang aneh-aneh. Ayo" ujarnya kemudian menarik tangan Donghae. Namun Donghae menahannya, dan membalikkan badannya. Lalu membungkuk didepan Hyukjae dan mengisyaratkan Hyukjae untuk naik ke punggungnya. Kemudian Donghae menggendong Hyukjae hingga ke kelas yang membuat heboh seisi kampus termasuk Uee.

Pasalnya sudah hampir seminggu diantara mereka berdua tidak ada yang mendatangi rumahnya dan mereka berdua pun tidak terlihat membuat keributan di kampus juga belakangan ini. Dan sekarang apa yang mereka lihat? Donghae menggendong Hyukjae dipunggungnya dengan Hyukjae yang membenamkan wajahnya pada leher Donghae –menyembunyikan luka dan malunya pasti-. Itu adalah sesuatu yang sama sekali mereka tidak mengerti. Untunglah saat HaeHyuk kembali ke kampus, kebanyakan dari mereka sedang ada jam kuliah, jika tidak mungkin mereka akan dihujani oleh banyak pertanyaan.

BRAKK

Okay, Dosen tidak kaget jika yang masuk adalah Donghae dan Hyukjae yang tanpa menghormatinya yang sedang mengajar dan langsung menuju kebangku. Kali ini, Donghae dengan Hyukjae dipunggungnya?! Dan bahkan Donghae menunduk pada Dosennya sebelum mengambil tasnya dan tas Hyukjae?

"Maaf Bu, saya dan Hyukjae tidak bisa mengikuti perkuliahan hari ini karena Hyukjae sedang sakit" berhenti didepan meja Dosen lalu menunduk yang diikuti Hyukjae –menundukkan kepalanya- kepada Dosen yang mengajar.

"Ah iya-iya. Se-semoga Hyukjae cepat sembuh" masih dengan keterkejutan Dosen yang mengajarpun memberi izin. Yang membuat mereka meninggalkan kelas itu dengan semua mata tertuju kepada mereka termasuk Ibu Dosen yang sepertinya tidak akan melanjutkan perkuliahannya.

.

.

.

Turun dari motor Donghae kemudian mengalungkan tangan Hyukjae ke lehernya dan memeluk pinggang Hyukjae erat takut Hyukjae terjatuh kemudian berjalan menuju pintu rumah Hyukjae. Sebenarnya kalau mau dibilang luka Hyukjae sih tidak begitu parah, dia terbiasa denga keadaan seperti ini hanya Donghae saja yang berlebihan. Sepertinya dia lupa jika Hyukjae juga berandalan seperti dia? Ataukah karena dia telah jatuh begitu dalam pada Hyukjae sehingga begitu mengkhawatirkan Hyukjae?

"Eomma aku pulang!"

"Hyukkie kau sudah pul…OMO! Hyukjae apa yang terjadi denganmu lagi? Bukannya kau berjanji untuk tidak pulang dengan luka-luka itu lagi!?" ujarnya Ibu Hyukjae heboh sambil memeriksa luka Hyukjae.

"Hehehe maafkan aku eomma"

"Dan siapa lelaki tampan ini?" kakak perempuannya yang dari kamar langsung menanyakan keberadaan lelaki tampan yang berada disamping atau bisa dibilang yang sedang memeluk Hyukjae.

Sedikit berbisik pada noonanya takut Donghae mendengar meski percuma karena, "Masih calon pacarkan? Jadi tidak apa dong kalau noona juga mendekatinya" ujar noonanya menggoda Hyukjae.

"YAK! NOONA! Aku takkan membiarkan Donghae jatuh kepadamu!" Ups sepertinya dia lupa tadi tidak ingin Donghae mengetahuinya. Posesif Hyukjae kemudian memeluk Donghae erat benar-benar takut Sora mengambil Donghaenya yang dibalas tawa senang Sora telah berhasil mengerjai adiknya dan keterkejutan di wajah Donghae.

"Aish, Sora berhenti menggoda adikmu! Ayo masuk dulu." Ujar Ibu Hyukjae menengahi.

"Noona hanya mengerjaiku? Tapi noona, yang sebelum-sebelumnya?" Tanya Hyukjae -sambil mereka berjalan menuju sofa ruang keluarga- penasaran pasalnya dia sempat membawa yang dia katakan calon pacar –temannya- dan mereka malah meminta bantu Hyukjae untuk mendekati Sora noonanya.

"Itu karena mereka straight Eunhyukie~ lagian noona tidak mungkin mendekati calon-calon pacarmu Eunhyukie" dan Hyukjae menganggukan kepala tanda setuju. "Tapi kalau yang satu ini juga straight, sepertinya noona tarik perkataan noona hahaha"

"YA NOONA!"

"Hahahahahaha"

.

"Jadi Donghae apa kau gay atau straight ataupun… kau bi?" Tanya Sora serius pada Donghae yang saat ini hanya mereka berdua saja di ruang keluarga. Karena Ibu Hyukjae sedang didapur menyiapkan makan malam sedangkan Hyukjae berada dikamarnya mengganti pakaiannya. Donghae sempat menawarkan mengantarnya tapi Hyukjae menolak karena dia tidak ingin terjadi hal yang tidak-tidak. Walaupun hal itu terlihat seakan Hyukjae yang menginginkan terjadi hal yang tidak-tidak kekeke.

Memantapkan hati Donghae menjawab "Aku gay dan aku menginginkan hanya Hyukjae"

"Wow, kau benar-benar telah jatuh padanya? Syukurlah! Aku bisa lega sekarang, jika kau mengatakan kau straight mungkin aku akan mengusirmu dari sini sekarang juga. Aku tidak suka melihat Eunhyukie sakit untuk kesekian kalinya" Donghae benar-benar merasa mendapat jackpot, awalnya dia sangat terkejut karena bahkan Hyukjae bisa blak-blakan mengatakan jika dia adalah calon kekasih Hyukjae pada Sora dan bahkan Ibunya tidak mempermasalahkan itu. Dia tidak pernah berfikir jika keluarga Hyukjaenya akan terbuka soal ini. Karena hal ini masih sangat tabu di Korea. Ya memang banyak sekali media memberi hint-hint bromance tapi untuk masyarakat yang dapat menerima itu masih sedikit sekali.

"Aku berjanji. Tidak-tidak aku tidak ingin berjanji jika ujung-ujungnya hanya ingkar. Aku akan berusaha untuk terus menjaga Hyukjae, Sora-si. Aku juga tidak bisa melihatnya sakit, karena akupun akan merasa sakit" terlihat jelas keseriusan dimata membuahkan senyum di wajah Sora.

Menepuk punggung Donghae "Kau bisa memanggilku noona dari sekarang karena sebentar lagi aku akan menjadi kakak iparmu kan" perkataan Sora menghasilkan senyuman di wajah Donghae.

"Ya!Ya!Ya! Apa ini? Noona jangan mendekatinya ku bilang" sambil memisahkan mereka berdua Hyukjae yang turun dari tangga lalu memeluk Donghae posesif. Yang membuahkan senyum gemas di wajah Donghae. Pasalnya Hyukjae yang cemburu –posesif- memeluknya dengan meletakan wajah Donghae pada dadanya sehingga Donghae bisa mendengar detak jantung Hyukjae yang seperti habis berolahraga itu.

.

.

"Kenapa kau mengobatiku dikamar?" Tanya Hyukjae gelisah. Hyukjae please jangan berfikir yang macam-macam sayang. Donghae tidak mungkin melakukannya saat kau terluka begini.

"Aku hanya ingin melihat kamar Hyukjaeku. Apa tidak boleh?" Hyukjae memerah, Donghae masih mengobati luka-luka Hyukjae. Dia yakin 2 hari lagi ini pasti akan ngilu. Ya Tuhan apasih yang dia pikirkannya tadi sampai melakukan ini.

"Donghae" panggil lembut Hyukjae. "Aku tidak apa-apa. Dengan kau melakukan hal ini dan bahkan membalas perasaanku itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati luka ini"

"Hm, aku percaya" sambil tersenyum dan mengelus pipi Hyukjae.


"Hyukjae mau menginap dirumahku?"

"Benarkah? AKU MAUUU" ujarnya bersemangat. Hyukjae tidak berpikir yang macam-macam dia hanya terlalu senang untuk bermain kerumah Donghaenya.

Kemudian meminta izin pada Ibu Hyukjae setelah makan malam. Oh dan tentu saja si gentle Donghae yang meminta izin untuk membawa Eunhyukienya menginap dirumahnya dan mendapat wejangan dari Ibu Hyukjae untuk tidak melakukan hal yang macam-macam.

.

.

.

"Eomma~"

"Masuklah Hae. Eomma lagi menyiapkan makan malam"

Lalu Donghae menarik lembut tangan Hyukjae -yang memang dari turun motor tadi tidak pernah dia lepas- menuju sofa ruang TV.

"Eoh? Ada tamu. Kenapa kau tidak memberitahukan eomma jika kau membawa teman?" yang kemudian duduk menyusul HaeHyuk yang telah duduk deluan.

"Eomma kan lagi menyiapkan makan aku tidak ingin mengganggu. Oh ya, Hyukjae kau pasti tau siapa ini kan?" yang mendapat geplakkan cinta dari Ibunya dan pukulan ringan di bahu Donghae dari Hyukjae. Dan dibalas cengiran dari Donghae namun tiba-tiba dia kembali serius.

"Dan eomma ini Hyukjae…"

"Tem…."

"Kekasihku" suara Hyukjae terputus karena Donghae, yang membuat baik Hyukjae maupun Ibu Donghae terkejut. Donghae merasakan remasan di tangannya yang masih menggenggam tangan Hyukjae. Dan jangan pikir Donghae tidak gugup, dia juga takut bagaimana respon Ibunya ini. Tapi Donghae juga tidak bisa terus terusan membohongi Ibu dan dirinya sendiri.


"Eomma mengerti" HaeHyuk menahan nafas untuk kata yang selanjutnya akan keluar.

"Jangan tinggalkan eomma ok?" yang langsung dihadiahkan pelukan Donghae dan Hyukjae dengan air matanya –lagi- dan kemudian bersujud didepan Ibu Donghae mengucapkan terima kasih. Melepaskan Donghae dari pelukannya.

"Eoh, jangan menangis Hyukjae" kemudian Ibu Donghae membawa Hyukjae kedalam pelukannya yang membuat Hyukjae menangis lebih kencang. Tidak ada kata lain lagi yang ingin diucapkannya selain banyak terima kasih pada Ibu Hyukjae karena mau mengerti mereka. Dan mengatakan dia akan berusaha membuat tidak ada satu keadaanpun yang mengharuskan Donghae meninggalkan Ibu Donghae.

"Ya Tuhan, Donghae bagaimana bisa kau mendapatkan yang manis seperti ini? He's so pure Hae" sepertinya Ibu Donghae bisa merasa lega. Dia benar-benar bisa merasakan perasaan tulus yang dimiliki oleh Hyukjae.

"Because I'm a good boy mom" melepaskan Hyukjae dari Ibunya. Menghapus airmatanya, mencium keningnya, lalu memeluknya erat dengan Hyukjae yang masih sesenggukkan dalam pelukkannya. "Jangan bilang kau cemburu pada eomma Donghae" curiga Ibu Donghae.

"Aku tidak bisa berbohong mengatakan tidak eomma" masih dengan mengelus rambut Hyukjae dan mendengar hal itu membuat Hyukjae memerah dalam pelukkan Donghae.

"Ck dasar posesif! Oh ya apa kau mengajak Hyukkie kemari malam-malam seperti ini hanya untuk mengatakan ini? ckckck"

"Tidak eomma! Hyukjae akan menginap disini"

"Secepat ini? Hyukie apa kau siap sayang?" ujar Ibu Donghae menggoda Hyukjae

"E-eh-EH?" Hyukjae mengangkat kepalanya dari ceruk leher Donghae.

"Eomma hanya bercanda kekeke. Ya ampun imutnya~ Ingat jangan macam-macam. Ayo kita makan dulu sebelum tidur" setelah mencubit gemas pipi Hyukjae Ibu Donghae berlalu menuju dapur.

Mencuri ciuman di bibir kissable itu Donghae berujar "Tidak apa-apakan kita makan dua kali malam ini" yang dibalas Hyukjae dengan anggukan dan senyuman manis.

.

.

"Eunhyukie, janji padaku jika kau merasakan sakit jangan lupa untuk segera menghubungiku" mereka diatas ranjang saling berhadapan dengan tangan kiri Hyukjae memeluk pinggang Donghae dan tangan kanan Donghae mengelus luka Hyukjae.

"Hae, bahkan aku sekarang masih dihadapanmu"

"Kapanpun itu" Donghae memposisikan badannya terlentang. "Bahkan, meski sekarang saat kau dihadapanku jika kau merasa sakit langsung beritahu aku"

"Baiklah aku mengerti" Hyukjae perlahan menaiki tubuh Donghae

"Sayang aku belum mau melakukannya sekarang, kau masih terluka"

"Apasih! Aku cuma mau tidur didadamu" lalu merebahkan kepalanya didada Donghae. "Hae aku menyukai aroma tubuhmu" ujar Hyukjae sambil mencium-cium ringan dada Donghae yang masih terlapisi kaos.

"Hyuk, please jangan memancing sayang" Donghae lalu menangkup wajah Hyukjae dan mendongakkannya untuk menatapnya, kemudian mencuri ciuman dari Hyukjae. "Sudahlah ayo tidur, Kau butuh banyak istirahat sayang" Donghae lalu memutar tubuhnya kesamping dan membiarkan Hyukjae tidur menjadikan bisepnya sebagai bantal Hyukjae.

"Donghae, aku mecintaimu" Hyukjae mengucapnya dengan posisi wajahnya masih pada dada Donghae –menutupi merah diwajahnya-. "Donghae tersenyum senang mendengarnya. "So Lee Hyukjae maukah kau selalu bersama lelaki yang sedang memelukmu saat ini dan selalu berada disisinya dalam hidupnya? Dia tidak memiliki apa-apa yang bisa menjanjikan kau akan bahagia dengannya. Dia hanya punya perasaannya saat ini yang telah jatuh pada seorang Lee Hyukjae begitu dalam." Hyukjae mendongak guna melihat Donghae dengan kata-katanya dan dia benar-benar ingin menangis lagi.

"Aku tidak butuh apa-apa selain Lee Donghae ini yang tengah memelukku dan menatapku tulus. So, yes I would" kemudian mencium bibir Donghae. "Kkkk cheesy~ but I love it" lalu melumat bibir Donghae agak lama yang tentu diladeni Donghae dengan menerobos masuk dan mengemut lidah Hyukjae dengan sangat senang hati, kemudian mereka jatuh tertidur dengan Hyukjae dalam pelukan Donghae.

END

Karena gagal mulu ngepost di fanfiction jadinya ngepost di blog deh TT

2 komentar:

  1. u,u ini manis TT
    padahal udah sempat nyesek aja waktu hae mukul hyuk sampe berdarah gitu, tapi ternyata endingnya manis beudh~

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih sudah komen~
      hehe maafkan hae ya~ dia lagi labil disitu, syukurnya endingnya happy :D
      thanks for reading~

      Hapus